1.1 Latar Belakang

Wajib belajar adalah Program pendidikan minimal yang harus diikuti oleh warga Negara Indonesia atas tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Program pendidikan minimal bagi warga Negara Indonesia  adalah pendidikan dasar. Pendidikan Dasar adalah jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah, berbentuk sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta sekolah menengah pertama (SMP) dan madrasah tsanawiyah ( MTs), atau bentuk lain yang sederajad. Wajib belajar berfungsi mengupayakan  perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi setiap warga Negara Indonesia. Tujuan Wajib belajar adalah memberikan memberikan penidikan minimal bagi warga Negara

Pemerintah Kabupaten Madiun telah berhasil melaksanakan penuntasan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun. Keberhasilan ini ditindaklanjuti dengan program wajar Dikmen 12 tahun mulai tahun 2007. Oleh sebab itu, program yang sangat strategis untuk meningkatkan mutu Sumber Daya Manusia (SDM) ini perlu dukungan dan partisipasi semua masyarakat Kabupaten Madiun.

1.2 Maksud

Memberikan kesempatan belajar kepada anak usia sekolah dari keluarga tidak mampu (sangat miskin, miskin, mendekati miskin) di Kabupaten Madiun

1.2 Tujuan

  1. Mencegah siswa putus sekolah pada jenjang Pendidikan Menengah (SMA,SMALB,SMK, dan MA Negeri dan Swasta) di Kabupaten madiun
  2. Menampung Lulusan SMP/MTs/SMPLB atau yang sederajat agar melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi
  3. Membantu siswa yang mengalami kesulitan baik disebabkan oleh kondisi ekonomi, geografis, maupun alas an social lainnya serta meningkatkan Angka Partisipasi Kasar sekolah Menengah

Berdasarkan hasil pemeriksaan atas Program Wajib Belajar 12 Tahun di Kabupaten Madiun Tahun 2008 menunjukkan keadaan sebagai berikut:

1. Jenjang Pendidikan Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI)

Standar Pelayanan Minimal (SPM) Pendidikan jenjang SD/MI yang dipersyaratkan sebagai standar kinerja minimal pembangunan pendidikan antara lain :

  1. APK SD/MI yaitu, indikator yang menunjukkan berapa besar prosentase jumlah siswa terhadap jumlah anak usia 7-12 tahun, pada tahun 2008 sebesar 107,58% meningkat dibanding tahun 2007 yaitu sebesar 107,09%, telah mencapai target yang ditetapkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jatim 100%, dan telah melampaui SPM yang ditetapkan sebesar 100%. Sedangkan Angka Partisipasi murni (APM), yaitu indikator yang menunjukkan prosentase jumlah siswa berusia 7-12 tahun terhadap jumlah anak berusia 7-12 tahun di Wilayah Kabupaten Madiun, pada tahun 2008 sebesar 96,30%, angka ini meningkat jika dibandingkan tahun 2007 sebesar 95,84%, belum memenuhi target yang ditetapkan Propinsi Jatim Tahun 2008 sebesar 99 %, namun telah mencapai SPM yang ditetapkan Nasional minimal sebesar 95%.

b. Angka Putus Sekolah untuk tingkat SD/MI pada Tahun 2008 sebanyak 10 siswa atau 0,02%, mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya sebanyak 9 siswa atau 0,02%, dan masih di bawah batas maksimal SPM yang ditetapkan Nasional sebesar 1%.

c. Jumlah sarana dan prasarana minimal yang dimiliki sesuai dengan standar teknis yang ditetapkan secara nasional dapat terpenuhi sebesar 52,23%, angka ini sebanding Tahun 2007 sebesar 52,23% dan belum memenuhi target yang ditetapkan Propinsi Jawa Timur sebesar 95 %, dan masih dibawah SPM yang ditetapkan minimal Nasiona sebesar 90%.

d. Jumlah guru kelayakan menhajar SD/MI Tahun 2008 terpenuhi sebesar 79,8%, menurun dibanding tahun 2007 sebesar 83,11% dan belum memenuhi target Propinsi Jatim sebesar 100%, dan SPM yang ditetapkan Nasional minimal sebesar 90%.

e. Dari 5.387 guru SD/MI yang ada, sejumlah 1.088 guru (20,71%) belum memenuhi kualifikasi sesuai dengan kompetensi yang ditetapkan secara nasional, yaitu minimal lulusan S1. Dengan demikian prosentase jumlah guru yang memenuhi standar kompetensi Tahun 2008 sebesar 79,29% menurun dibandingkan Tahun 2007 sebesar 83,11%, jumlah tersebut belum memenuhi target Propinsi Jawa Timur sebesar 95% dan masih dibawah SPM yang ditetapkan Nasional minimal sebesar 90%.

f. Jumlah siswa SD/MI per kelas Tahun 2008 sebanyak 19 siswa dan Tahun 2007sebanyak 19, hal ini belum memenuhi standar SPM Nasional yaitu 30-40 siswa per kelas.

g. Jumlah lulusan SD/MI tahun ajaran 2008/2009 sebanyak 10.289 siswa dan sebanyak 9.479 siswa melanjutkan (masuk ke kelas I) ke jenjang pendidikan SMP/MTs (94,24%). Angka melanjutkan Tahun 2007 sebesar 93,10% tersebut meningkat dibanding tahun 2007 sebesar 86,62%, namun masih dibawah SPM yang ditetapkan Nasional minimal sebesar 95%.

2. Jenjang Pendidikan Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs)

  1. APK SMP/MTs yaitu, indikator yang menunjukkan berapa besar prosentase jumlah siswa terhadap jumlah anak usia 13-15 tahun, pada tahun 2008 sebesar 99,99 % meningkat dibanding tahun 2007 sebesar 99,55 % belum mencapai target yang ditetapkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jatim sebesar 95 %, serta SPM yang ditetapkan minimal sebesar 90%. Sedangkan Angka Partisipasi murni (APM), yaitu indikator yang menunjukkan prosentase jumlah siswa berusia 13-15 tahun terhadap jumlah anak berusia 13-15 tahun  pada tahun 2008 sebesar 80,56 % meningkat dibandingkan tahun 2007 sebesar 78,80,49 %, belum mencapai target yang ditetapkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur sebesar 90,24 %, dan belum mencapai SPM yang ditetapkan minimal sebesar 90%.
  2. Angka Putus Sekolah untuk tingkat SMP/MTs pada tahun 2008 sebesar 0,38% mengalami peningktan dibanding tahun 2007 sebesar 0,18%. Hal tersebut menunjukkan bahwa jumlah siswa drop out tidak melampaui batas maksimal SPM yang ditetapkan sebesar 1%.
  3. Jumlah sarana dan prasarana minimal yang dimiliki sesuai dengan standar teknis yang ditetapkan secara nasional tahun 2008 terpenuhi sebesar 93,06%, angka ini meningkat dibanding Tahun 2007 sebesar 85,04%, dansudah memenuhi target yang ditetapkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur sebesar 90% dan belum mencapai SPM yang ditetapka minimal sebesar 90%.
  4. Jumlah guru SMP/MTs tahun 2008 dapat terpenuhi sebesar 88,99%, sebanding sama tahun 2007 sebesar 88,99%, belum memenuhi target yang ditetapkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur sebesar 100%, tetapi telah melampaui SPM yang ditetapkan minimal sebesar 90 %.
  5. Dari 2.135 guru SMP/MTs yang ada, sejumlah 235 guru (11,01%) belum memenuhi kualifikasi sesuai dengan kompetensi yang ditetapkan secara nasional, yaitu minimal lulusan S1. Dengan demikian prosentase jumlah guru yang memenuhi standar kompetensi tahun 2008 sebesar 88,99% sebandingkan sama tahun 2007 sebesar 88,99%, angka tersebut belum memenuhi target Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur sebesar 90% serta belum mencapai SPM yang ditetapkan minimal sebesar 90%.
  6. Jumlah siswa SMP/MTs per kelas sebanyak 35 siswa, hal ini masih memenuhi standar SPM yang ditetapkan yaitu 30-40 siswa maksimal per kelas.
  7. Jumlah lulusan SMP/MTs tahun ajaran 2008/2009 sebanyak 8.435 siswa dan sebanyak 5.815 siswa melanjutkan (masuk ke kelas I) ke jenjang pendidikan SMA/MA/SMK (68,90%). Angka melanjutkan Tahun 2008 sebesar 68,90% meningkat dibanding tahun 2007 sebesar 59,07 % namun belum memenuhi target Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur sebesar 90 % dan telah memenuhi SPM yang ditetapkan minimal sebesar 75%. Dengan demikian secara umum nampak bahwa indikator SPM bidang pendidikan dasar Propinsi Jawa Timur belum sepenuhnya tercapai atau belum dapat diukur pencapaiannya.

2. Jenjang Pendidikan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Tsanawiyah (SMA/SMK/MA)

Berdasarkan data yang ada, jumlah SMA, MA, dan SMK sebanyak 45 sekolah, siswa baru tingkat I sebesar 5812 siswa, siswa seluruhnya sebanyak 16452 siswa, dan lulusan sebanyak 4241 siswa. Untuk menampung sejumlah siswa tersebut, tersedia ruang kelas sebanyak 412 ruang dengan rincian 360 ruang kondisi baik, 37 ruang kondisi rusak ringan, dan 15 ruang  kondisi rusak berat, dengan jumlah kelas sebesar 467 buah, sehingga terdapat shift sebesar 1,13 yaitu perbandingan  jumlah kelas dengan ruang kelas.

Guru yang mengajar di SMA, MA dan SMK sebanyak 1.272 orang diantaranya yaitu sebanyak 1.120 orang (87,45 persen ) adalah layak mengajar,  99 orang ( 7,49 persen ) semi layak, dan 40 orang  ( 3,13 persen ) tidak layak mengajar.

Untuk menunjang kegiatan belajar mengajar di SMA, MA dan SMK terdapat fasilitas perpustakaan sebesar 22 ruang, lapangan olah raga 16, UKS 24 ruang, laboratorium sebesar 52 buah, ketrampilan sebesar 21 buah, BP sebesar 25 buah, serba guna sebesar 8 buah, bengkel sebesar 8 buah, dan  ruang  praktik  sebesar 16 buah  ( Tabel  2.9 )

Bila dibandingkan antara siswa SMA dengan SMK yaitu 6445 siswa dibanding 7944 siswa ternyata jumlah siswa SMK lebih besar. Hal ini disebabkan karena pemerintah memprogramkan bahwa lulusan SMP/MTs diarahkan untuk melanjutkan ke SMK, dengan konsekuensi Pemerintah membangun USB SMK di daerah pinggiran atau daerah yang sangat membutuhkan. Dengan program ini diharapkan perbandingan jumlah siswa SMK : SMA menjadi 55,21 : 44,79. Disamping itu partisipasi dari sekolah swasta dalam upaya untuk menampung lulusan SMP/MTs juga sangat besar. Hal ini terbukti dengan banyak sekolah kejuruan swasta yang ada di Kabupaten Madiun. Sehingga lulusan SMK lebih besar jika dibandingkan dengan lulusan SMA.

Dari ketiga jenis sekolah yang ada, jumlah ruang kelas yang paling besar memiliki kondisi yang baik dan rusak berat adalah SMA.

Selanjutnya jika dilihat dari guru yang layak mengajar, ternyata paling banyak di SMA sebesar 90,94 persen dan yang terkecil di MA sebesar 84,35 persen. Bila dilihat dari fasilitas sekolah yang seharusnya ada, ternyata tidak semua fasilitas yang ada dimiliki oleh SMA, MA, atau SMK. Ruang Perpustakaan , lapangan olah raga, UKS hampir semua ada di tiga jenis sekolah, sedangkan bengkel dan ruang  praktek sesuai dengan fungsinya hanya terdapat di SMK. Kondisi sekolah yang tidak memiliki fasilitas  tersebut  hendaknya menjadi prioritas dalam pembangunan fasilitas tersebut.

2.3 Target

Kinerja Pendidikan Dasar dan Menengah di kabupaten Madiun tahun 2008/2009 sebagai berikut :

1. SD dan MI

No.

Jenis Data

Pencapaian 2008/2009

Target 2009/2010

1.

2.

3.

4.

5.

6.

A P K

A P M

Rasio Siswa/Sekolah

Siswa/Kelas

Siswa/Guru

Kelas/Ruang Kelas

107,58

80,56

114

19

11

0,92

109,12

97,65

114

19

11

1

Khusus untuk SD dan MI, dilihat dari pencapaian APM dan APK dapat dikatakan berhasil dengan baik, sebagaimana yang digambarkan pada tabel pencapaian APK dan APM di atas, dan untuk mencapai target yang ditetapkan maka akan dilakukan penyuluhan yang lebih intensif lagi bersama Tim Koordinasi Wajar 12 tahun baik tingkat Kabupaten maupun tingkat Kecamatan.

2. SMP dan MTs

No.

Jenis Data

Pencapaian 2008/2009

Target 2009/2010

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

A P K

A P M

Angka Transisi

Rasio Siswa/Sekolah

Siswa/Kelas

Siswa/Guru

Kelas/Ruang Kelas

99,99

80,56

94,24

366

35

13

0,97

100,15

81,75

98,65

366

35

30

1,00

Untuk pemerataan pada tingkat SLTP jika dilihat dari APK dan APM nya masih relatif rendah. Hal ini disebabkan karena Kabupaten Madiun memiliki 15 Kecamatan terpencar-pencar dengan lembaga SLTP/MTs yang terbatas sehingga menyulitkan bagi lulusan SD/MI untuk melanjutkan ke SLTP yang sederaja, disamping itu pula adanya penduduk yang nomaden berlayar bahkan mencari nafkah

3. SMA,SMK dan MA

No.

Jenis Data

Pencapaian 2008/2009

Target 2009/2010

1.

2.

4.

5.

6.

7.

A P K

A P M

Rasio Siswa/Sekolah

Siswa/Kelas

Siswa/Guru Kelas/Ruang Kelas

48,47

36,63

386

35

15

1,67

52,53

38,83

366

35

30

1,00