WISUDHA PANATACARA / PAMEDHAR SABDA LAN SINDHEN

WISUDHA PANATACARA / PAMEDHAR SABDA LAN SINDHEN

Pelaksanaan Wisudha Penatacara / Panedhar Sabdha lan Sindhen yang di buka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Madiun Drs. Sumardi, M.Pd pada tanggal 21 Juli 2009.

Minimnya minat generasi muda melestarikan budaya Jawa menjadi keprihatinan Dinas Pendidikan Kabupaten Madiun.Saat ini,jarang ditemukan anak muda yang melakoni pekerjaan sebagai panatacara atau pamedhar sabda,dan sinden.

Bapak ISMONO,Kepala Bidang Kebudayaan Dindik setempat mengatakan,profesi itu saat ini banyak dibutuhkan dalam acara atau kegiatan yang memiliki unsur tradisional Jawa.”Karena itulah,setiap tahun kami menggelar kursus panatacara.Dan baru tahun ini,kami mengadakan kursus sinden,”ujarnya,kemarin

Kursus yang sudah digelar sembilan kali tersebut ternyata mampu menarik minat warga.Buktinya,jumlah peminat kursus itu setiap tahun meningkat.Bahkan tahun ini,jumlah lulusan kursus mencapai 51 peserta untuk panatacara dan 31 untuk sinden.”Tidak hanya masyarakat umum,peserta khursus ini juga berasal dari guru,siswa,dan pegawai tata usaha,”katanya disela-sela kegiatan wisudan panatacara atau pamedhar sabda dan sinden,di Aula Dinas Pendikdikan Kabupaten Madiun.

IMG_0760Sebelum diwisuda,puluhan peserta harus menjalani pelatihan selama enam bulan.Yakni untuk belajar bahasa sastra,materi kepanatacaraan,kebudayaan Jawi,sekar setaman,sekar gending,dan ngadi busana serta salira. Menurutnya,selama kursus peserta ditarik biaya sebesar Rp240ribu per orang untuk enam bulan.”Biaya sebanyak itu dipakai untuk kepentingan peserta,seperti fotokopi,kosumsi dan lainnya,”paparnya.

Drs. SUMARDI,M.Pd kepala Dinas Pedidikan Kabupaten Madiun mengatakan,dengan kegiatan ini diharapkan menumbuhkan kecintaan generasi muda pada budaya Jawa.Selain itu,juga dapat mengangkat kebudayaan asli yang dari hari ke hari termarjinalkan. ”Rencananya akan kami adakan rutin setiap tahun,” jelasnya.

Uniknya,peminat profesi sinden tidak hanya diminati remaja atau orang dewasa saja.Buktinya,SAFIRA QORI AMINDA,siswa kelas tiga SDN 02 Bagi,Kecamatan Sawahan juga terraik mengikuti kursus tersebut.Safira mengaku, keinginan belajar sinden berasal dari dorongan guru dan orang tuanya.Namun setelah menjalani kursus selama beberapa hari,Safira mulai menyukai pelatihanya.”Saya ingin jadi pesinden yang terkenal nanti,”ujarnya polos

IMG_0762Keinginan menjadi pesinden juga diutarakan NOVI RESTININGSIH,siswa kelas XII SMKN 1 Wonoasri. Menurutnya,profesi sinden sudah turun menurun dalam keluarganya.Sehingga dorongan menjadi sinden terus mencul.”Sebetulnya saya sudah menggeluti profesi sebagai penyanyi elekton.Tapi karena ingin melestarikan budaya keluarga,maka saya tertarik mengikuti kursus ini.Ternyata menyanyi dan nyinden beda.