TIGA puluh lima tahun silam, ketika Malaysia baru bangkit dari tidur lelapnya pasca penjajahan Inggris, negeri itu mulai melirik masalah pendidikan.
Kebijakan pemerintah Malaysia sekira tahun 1970-an adalah peningkatan mutu pendidikan guna menciptakan kader-kader bangsa yang berkualitas. Sayangnya, waktu itu Malaysia hanya sedikit memiliki aset pendidik yang berbobot, sehingga melirik sejumlah tenaga pengajar Indonesia yang dianggap jauh lebih maju dalam
urusan pendidikan. Salah satu tenaga pendidik yang direkrut (dikontrak) Malaysia yaitu Muchtar (almarhum), guru SMPP (sekarang SMAN III) Kota Sukabumi

Almarhum Muchtar barangkali akan tersenyum melihat kemajuan bidang pendidikan di Malaysia, karena sedikit banyak almarhum memiliki kiprah dalam memajukan negara tetangga ini. Sebaliknya, bisa jadi almarhum akan menangis ketika menyaksikan betapa tertinggalnya pendidikan di negaranya sendiri. 

Melihat kemajuan pendidikan di Malaysia dan Singapura, tidak mengherankan jika ribuan orang tua, akhirnya harus menjatuhkan pilihan agar anaknya melanjutkan kuliah di salah satu dari dua negera maju tersebut. Bahkan, ratusan orang tua merelakan anak-anaknya bersekolah dasar hingga menengah di Malaysia .

Berdasarkan catatan Kedubes RI di Malaysia, tidak kurang dari 5.000 pelajar dan mahasiswa asal Indonesia,
Perguruan tinggi bertaraf internasional. "Secara kuantitas angka mahasiswa asal Indonesia di Malaysia, setiap tahunnya terus bertambah. Tahun 2004, catatan baru sekira 1.500 mahasiwa Indonesia yang belajar di Malaysia . Saat ini, sedikitnya ada 2.600 orang mahasiswa Indonesia yang tersebar di beberapa perguruan tinggi. Sedangkan pelajar setingkat SD dan sekolah menengah tidak kurang dari 3.000. Pelajar sekolah dasar dan menengah ini, menyebar di beberapa sekolah. Antara lain, di Sekolah Sri Sedaya di kawasan Subang Jaya, Selangor atau di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur. Tapi yang cukup menyulitkan adanya kebijakan pemerintah Malaysia tidak menerima anak-anak TKI bersekolah di Malaysia. Saya tengah berupaya keras untuk membuka jalan agar anak-anak TK I juga bisa bersekolah," kata Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, KPA Drs. Rusdihardjo, S.H. mantan Kapolri .Sebagian besar mahasiswa Indonesia yang menimba ilmu di Malaysia atau Singapura, mengambil studi bidang teknik sipil dan mesin. Alasan kualitas memang menjadi sasaran utama kehadiran pelajar Indonesia di Malaysia atau Singapura. Untuk sekolah dasar dan menengah misalnya, tidak sedikit pelajar kita sengaja bermukim atau dimukimkan oleh orang tuanya untuk belajar mandiri dan menimba ilmu di negeri "Pak Lah" (sebutan untuk Perdana Menteri Abdulah Badawi) ini. Di Sekolah Sri Sedaya Selangor saja ada sekira 20 pelajar Indonesia . Ini baru satu sekolah swasta. Sekolah ini memang cukup bermutu.
Sehingga 99,9% lulusan Sri Sedaya setiap tahunnya selalu lolos dari seleksi mahasiswa di beberapa perguruan tinggi negeri di Indonesia. Padahal pada umumnya, mulai tingkat dasar hingga menengah hanya ditempuh selama 11 tahun. ( Di Indonesia 12 tahun, kecuali program akselerasi) dengan perhitungan sekolah dasar selama 6 tahun dan menengah (SMP & SMA) selama 5 tahun. "Tapi proses belajarnya setiap hari selama tujuh jam setengah, mulai pukul 8.00 sampai 15.30, kecuali Jumat hanya sampai pukul 12.50 dan hari Sabtu- Minggu libur.

Selain itu, mata pelajaran yang diajarkan di sekolah-sekolah di Malaysia juga sangat terbatas, seperti matematika, bahasa Melayu, bahasa Inggris atau Bahasa Cina, sejarah, agama atau pendidikan moral, biologi, ekonomi ditambah dengan olah raga, life skills serta muatan lokal. Untuk ekstrakurikuler, para siswa di sekolah-sekolah Malaysia lebih mengutamakan ilmu bela diri. Sedangkan fasilitas belajar siswa memang pada umumnya relatif lebih baik ketimbang yang ada di Indonesia pada umumnya. 

Tapi, karena sekolah ini merupakan yang memiliki kualitas, tentu diimbangi oleh pembayaran yang cukup tinggi. Untuk seorang siswa yang belajar di Sekolah Sri Sedaya, minimal harus menyediakan dana RM 7.000,00 atau Rp 17,5 juta untuk satu tahun. Ini untuk sekolah dasar, sedangkan sekolah menengah, bisa mencapai Rp 20 juta/tahun, belum termasuk makan siang dan antar jemput bus. Pendidikan berkualitas seperti di Sekolah Sri Sedaya ini memang sangat mahal untuk ukuran Indonesia . Setinggi-tingginya sekolah swasta di negara kita, paling hanya memerlukan dana sekira Rp 300.000,00/bulan atau sekira Rp 3,6 juta/tahun. Tarif sekolah swasta sebesar ini pun sudah pasti akan diprotes oleh orang tua siswa di Indonesia. Sedangkan untuk sekolah-sekolah negeri di Malaysia maupun Singapura, memang relatif lebih murah, tapi tidak gratis sama sekali. Seperti di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur iuran bulana tetap diberlakukan, hanya tarifnya bervariasi, sesuai dengan kemampuan orang tua siswa. Sek olah ini jauh lebih murah dibanding sekolah swasta yang ada di Kuala Lumpur. Pada umumnya guru-guru di sekolah milik Departemen Luar Negeri ini memiliki kualitas tertentu. Untuk mengajar di sekolah dasar saja ada yang menyandang gelar doktor (S-3), tapi pada umumnya strata satu (S-1) dan S-2. Hampir seluruh tenaga pengajar di sekolah ini berasal dari Indonesia yang dikontrak berdasarkan kesepakatan yang telah ada. 

Setiap periode guru-guru di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur selalu berganti. Ini tergantung pada masa kontrak. "Gaji di sekolah ini jauh lebih kecil dibanding tenaga pengajar di Singapura. Kami rata-rata mendapat gaji RM 3.000 atau sekira Rp 7,5 juta. Tapi biaya hidup di Kuala Lumpur jauh lebih tinggi dibanding dengan Indonesia. Hanya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S-2 atau S-3 sangat murah dan ini yang kami kejar. Biarlah gaji kami kecil, tapi kami bisa melanjutkan pendidikan hingga S-3. Coba kalau kita mengambil S-2 apalagi S-3 di Indonesia, paling tidak harus menyediakan uang sebesar Rp 20 juta. Kalau di sini cukup dengan uang ratusan ringgit atau puluhan ribu rupiah," .

Para siswa sendiri tampaknya seperti saudara. Satu sama lain di antara mereka, jauh lebih akrab. Seperti keluarga sendiri. Terlebih lagi siswa yang sengaja belajar di Malaysia dan orang tuanya ada di Indonesia. Paling hanya pada liburan panjang semester para siswa ini bisa pulang ke Indonesia atau sesekali dijenguk oleh orang tuanya ke Kuala Lumpur dan Singapura. Sama seperti guru-guru yang keluarganya ada di Indonesia. "Kalau jauh selalu merindukan bertemu dengan ayah, ibu, dan saudara-saudaranya," di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur. Oleh sebab itulah, setiap ada tamu yang berkunjung ke sekolah tersebut, selalu dihibur oleh paduan suara siswa dan siswi sekolah tersebut dan jangan heran jika lagu yang diperdengarkan kepada para tamu selalu "Mother How Are You To Day" sebagai pelepas rasa trindu pada ibu dan sanak famili.

Harus diakui bahwa sekolah-sekolah di Malaysia dan Singapura pada umumnya memiliki kualitas sedikit lebih tinggi dibanding rata-rata sekolah di Indonesia. Tapi, untuk urusan fisik bangunan, tidak ada perbedaan yang mencolok. Malah jika dibanding sekolah-sekolah yang ada di Indonesia.
Sekaya-kayanya negara seperti di Singapura dan Malaysia, tetap saja sekolah itu mahal. Khususnya untuk tingkatan dasar hingga menengah. Jadi, tidak akan pernah ada sekolah yang berkualitas tetapi gratis