05-05-2009, Pada apel pagi

  1. bahwa salah satu program Kegiatam dari Pemerintah Kabupaten Madiun yaitu Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat melalui pengentasan kemiskinan, berkaitan hal tersebut diatas Pemerintah Kabupaten Madiun berusaha untuk mengurangi angka kemiskin yang masih tinggi.
  2. Pembacaan Sapta Prasetya KORPI pada apel pagi wajib dilaksanakan dan kemudian dalam waktu dekat diteruskan pengucapan Sapta Prasetya KORPI digilir untuk semua Person Dinas
  3. Monev ke UPT Pendidikan TK/SD Kecamatan untuk memantau pelaksanaan Apel pagi dan Pulang.
  4. Mengintruksikan kepada seluruh sekolah mulai dari tingkat SD sampai dengan SM untuk melaksanakan Apel Pagi dan Pulang

Beliau juga mengatakan bahwa semua itu untuk meningkatkan kedisiplinan dan etos kerja.

KESIMPULAN BUDAYA KERJA

Berdasarkan uraian hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan sebagai berikut;

  1. Penelitian ini menunjukkan ada pengaruh yang signifikan antara budaya kerja terdiri dari budaya kejujuran, budaya ketekunan, budaya kreativitas, budaya kedisiplinan dan budaya iptek terhadap kemampuan. Hal ini dapat dibuktikandari hasil analisis secara statistik sebagai berikut:
    1. Pembuktian hasil analisis secara statistik melalui pengujian hipotesis diketahui bahwa nilai p = 0,003 (p < 0,05), besarnya pengaruh budaya kerja terdiri dari budaya kejujuran, budaya ketekunan, budaya kreativitas, budaya kedisiplinan dan budaya iptek terhadap kemampuan adalah 17,1% atau 0,171. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan ada pengaruh signifikan budaya kerja terdiri dari budaya kejujuran, budaya ketekunan, budaya kreativitas, budaya kedisiplinan dan budaya iptek terhadap kemampuanditerima.
    2. Berdasarkan uji t parsial diketahui bahwa budaya kerja yang berpengaruh terhadap kemampuan adalah variabel budaya kedisiplinan dan budaya iptek. Hal ini diketahui dari tingkat signifikansi variabel budaya kedisiplinan sebesar 0,013 dan budaya iptek sebesar 0,003 (p < 0,05), sedangkan variable budaya kejujuran, budaya ketekunan dan budaya kreativitas tidak mempunyai pengaruh terhadap kemampuan (p > 0,05).
  2. Tidak ada pengaruh yang signifikan antara budaya kerja terdiri dari budaya kejujuran, budaya ketekunan, budaya kreativitas, budaya kedisiplinan dan budaya iptek terhadap komitmen. Hal ini dibuktikan dari hasil analisis secara statistic melalui pengujian hipotesis, diketahui bahwa nilai p = 0,489 (p > 0,05), besarnya pengaruh budaya kerja terdiri dari budaya kejujuran, budaya ketekunan, budaya kreativitas, budaya kedisiplinan dan budaya iptek terhadap komitmen hanya 4,4%. Sehingga hipotesis yang menyatakan ada pengaruh yang signifikan budaya kerja terdiri dari budaya kejujuran, budaya ketekunan, budaya kreativitas, budaya kedisiplinan dan budaya iptek terhadap komitmen ditolak.

SARAN

Berdasarkan hasil pembahasan dan simpulan penelitian, maka diajukan beberapa saran sebagai berikut;

  1. Untuk mewujudkan pegawai yang mempunyai kemampuan dan komitmen, Selain “reward and punishment“, Biro atau Badan yang berwenang perlu menerapkan nilai-nilai budaya kerja yang ingin dikembangkan dengan memperhatikan pada aspek manusianya (fundamental psikologis untuk berubah), agar dapat mengikuti nilai-nilai budaya kerja tersebut antara lain;
    1. Menumbuhkan nilai-nilai kejujuran pada pegawai dengan mengeluarkan aturan penilaian yang memberikan kenikmatan bagi pegawai yang jujur, dan merugi bagi pegawai yang tidak jujur, dan dilaksanakan secara konsisten sehingga tidak lagi ada kesan bahwa pegawai yang jujur justru tersingkir, danyang tidak jujur justru beruntung.
    2. Mengarahkan pengembangan sistem yang dapat memacu loyalitas kepada profesi sebagai pelayan masyarakat, setara dengan berbagai profesi lain yang bermutu tinggi. Untuk menumbuhkan rasa bangga serta mencintai profesinya pegawai harus dijamin kesejahteraannya dengan sistem imbalan yang adil dan setara dengan nilai kerjanya sesuai harga pasar tenaga kerja.
    3. Mendorong kreativitas, dengan mengeluarkan aturan dan penilaian yang memberikan kenikmatan (jasmaniah dan/atau badaniah) bagi yang menemukan cara kerja yang lebih baik, dan dilaksanakan secara konsisten sehingga tidak terjadi keadaan yang digambarkan sebagai pegawai yang pinter dan bodoh atau rajin dan pemalas penghasilannya sama.
    4. Mendorong disiplin pegawai dengan mengeluarkan aturan dan penilaian publik yang memberikan dorongan untuk disiplin, seperti tanda penghargaan atau imbalan lain bagi pegawai yang disiplin dalam waktu lama, dan memberikan tindakan yang merugikan kepada pegawai yang indisipliner dan dilaksankan secara konsisten.
    5. Mendorong dan meningkatkan iptek dengan mengeluarkan aturan dan penilaian yang mengarah pada peningkatan keterampilan kerja pegawai dengan memberikan ujian jabatan, bea siswa peningkatan pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan tugas pokok dan fungsi, serta mengurangi rasa harga diri bagi yang tidak berusaha untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikapnya terhadap kerja.
  2. Agar nilai-nilai budaya tersebut tidak hanya diterima begitu saja, tetapi juga dapat tertanam kuat dan benar-benar terwujud dalam kehidupan nyata pegawai, maka perlu dibentuk kelompok budaya kerja melalui pendekatan secara sinergis yaitu sosialisasi dari dalam diri pegawai sendiri, dipadukan dengan sosialisasi kepada masyarakat. Sosialisasi kepada masyarakat dianggap sangat strategis karena dapat membentuk opini publik yang diharapkan dapat berdampak positif terhadap perubahan lingkungan sosial yang mendorong perubahan sikap dan perilaku setiap pegawai. (Jangan ditakut-takuti ha….. ok sekedar janda, NDN)