KUDUS, KOMPAS.COM–Warga, terutama kalangan remaja usia SMP, di Desa Temulus, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, fasih berbahasa Inggris. Meski baru belajar sekitar tiga bulan di English for Beginner (EFB), tetapi mereka sudah mampu berbahasa dan berpidato dengan bahasa Inggris.

Sungguh sangat senang. Apalagi jika mengingat kami adalah bagian dari warga desa yang dalam banyak hal jauh tertinggal dengan warga kota, tutur Handayani dan Asmiyar, siswa kelas II SMP Negeri Mejobo, pada acara pembukaan Kampung English (KE), di Balai Desa Temulus, Sabtu (4/4).

Menurut pimpinan EFB, Muslimin, metode belajar dan mengajar mengadopsi dari Pare, Kediri (Jawa Timur). Kami tidak menyediakan alat bantu teknologi, misalnya komputer, apalagi laboratorium bahasa. Hanya perpustakaan kecil-kecilan, ruang belajar yang masih bersifat darurat, empat tenaga pengajar, dan tanpa dipungut bayaran. Ke depan kami ingin membangun Kudus bagian timur sebagai english village dan basis intelektual di tingkat desa, katanya.

Muslimin menyatakan, selama enam tahun belajar bahasa Inggris secara formal di bangku SMP dan SMA sama sekali tidak menguasai bahasa ini. Begitu pula ketika menjadi mahasiswa. Saya akhirnya memutuskan ‘sekolah’ di Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kediri selama 9 bulan. Tiga bulan pertama sudah mampu berbahasa dan akhirnya saya ‘lulus’ dengan sangat memuaskan, katanya sembari tertawa.

Dia tertawa karena mengingat proses belajar dan mengajar di Desa Tulungrejo tidak seperti sekolah formal, dengan metode belajar dan sarana-prasarana penunjangnya yang serbamahal. Lebih banyak belajar di alam terbuka, berbaur dengan warga, belajar tentang budaya, lingkungan, dan sebagainya. Sebagian besar penduduk di sana memang sudah begitu akrab dengan bahasa Inggris dan banyak lulusan S1, S2, serta calon tenaga kerja Indonesia maupun tenaga kerja wanita yang belajar bahasa Inggris di desa ini, katanya.

Sumber : Kompas Cetak
http://oase.kompas.com/read/xml/2009/04/08/00322770/
Kampung.English.di.Desa.Temulus

Saran Webmaster: Salut dari Pendidikan Network!

Banyak pihak di bidang pendidikan suka ngomong mengenai globalisasi, tetapi kelihatannya Desa Tulungrejo betul mengerti isu yang paling utama terhadap globalisasi yaitu ‘bahasa Inggris’.

Re: ‘Kami tidak menyediakan alat bantu teknologi, misalnya komputer, apalagi laboratorium bahasa’

Memang, kita belajar bahasa, yang adalah sistem komunikasi antara manusia, secara terbaik dan paling efisien oleh manusia, bukan oleh teknologi (mesin).

Teknologi sendiri hanya sebagai salah satu alat bantu yang kita dapat menggunakan, dan sampai sekarang belum terbukti bahwa mengunakan teknologi adalah lebih baik dibanding waktu belajar bersama guru. Teknologi sangat tergantung bahan yang betul hebat dan sesuai dengan kebutuhan pelajar, yang memang berbeda-beda.
http://teknologipendidikan.com/kbm.html

Re: ‘Hanya perpustakaan kecil-kecilan’

Memang perpustakaan masih adalah jantung sekolah maupun pusat pembelajaran di luar sekolah.
http://pendidikan.net/perpustakaan.html

Re: ‘tidak seperti sekolah formal’

Kalau yang dilaksanakan di ‘sekolah formal’ tidak behasil, mengapa mengulangkan? Kita harus kreatif!

Yang paling penting adalah kemampuan siswa-siswi kita dalam percakapan bahasa Inggris. Kalau fokusnya dan latihan lebih mengarah ke kemampuan percakapan mereka lebih ‘enjoy’ pembelajaran bahasa dan kita juga sekalian meningkatkan keberanian mereka untuk menggunakan bahasa Inggris di arena umum.

Karena mereka langsung menggunakan bahasa Inggris mereka juga lebih berniat dan bersemangat untuk belajar (termasuk grammar) karena mereka langsung dapat melihat hasil dan manfaat pembelajarannya.

Memang bahasa adalah sistem komunikasi. Kalau tidak dapat berkomunikasi apa manfaatnya bahasa?

Kalau kita hanya menghargai dan menilaikan kemampuan ‘grammar’ dan kemampuan lain yang pasif, bagaimana kita dapat berharap anak-anak kita akan lancar dan berani menggunakan bahasa Inggris.

Bravo Desa Tulungrejo. Memang kita sering melihat bahwa anak-anak yang paling pandai asal dari desa-desa (misalnya olimpiad). Kadang-kadang saya merasa bahwa yang tinggal di kota besar adalah yang ketinggalan.

Mutu pendidikan tidak tergantung teknologi dan peralatan canggih, tetapi metoda dan mutu pembelajaran oleh guru.

Semoga Desa Tulungrejo dapat sebagai contoh dan inspirasi untuk semua desa di Indonesia.