Menurut beberapa dari kumpulan pendapat bahwa standar Nilai yang ditentukan Oleh Depdiknas belum saatnya di terapkan di Indonesai hal ini disebabkan oleh beberapa faktor a.l :
1. Sarana & Prasarana Pendidikan
a. Sarana & Prasarana yang tidak sama antara sekolah satu dengan yang lainnya sangat menentukan dalam siswa menyerap pelajaran yang diberikan sang guru
2. Status Sosial Keluarga
a. Salah satu yang membuat anak lebih bisa menyerap pelajaran adalah kandungan gizi yang dimakan oleh anak, anak seorang pejabat pasti makananya lebih bergizi dari seorang anak dari keluarga biasa-biasa saya.
b. Seorang anak yang kehidupan keluarganya serba pas-pas-an mempunyai beban pikiran sendiri terhadap dirinya dan keluarganya, sedang anak dari orang yang mampu lebih mendapat fasilitas apa saja yang dia butuhkan tanpa harus berfikir bagaimana nanti
c. Tidak ada Jaminan setelah Lulus sekolah
d. Sekarang ini banyak orang tua yang berfikir untuk apa sekolah kalu akhirnya menganggur ?”, seharusnya besarnya lulusan sekolah diikuti dengan besarnya kesempatan kerja
di Indonesia sepertinya seorang anak diarahkan untuk menjadi seorang Superman yang menguasai segala macam bidang, Padahal visi yang dirumuskan UNESCO Pendidikan adalah mendidik anak untuk belajar berfikir, belajar menjadi hidup, belajar menjadi diri sendiri dan belajar untuk hidup
Pada banyak hal “EQ” (emotion equotien) lebih menentukan keberhasilan seseorang dalam kehidupan dibandingkan tingginya “IQ” Jadi kesuksesan sesorang tidak hanya ditentukan oleh standar nilai kelulusan
Pendapat lain berkesimpulan, semuanya berarti terserah Orangtua dan Anaknya sendiri
Pilihan sekolah adalah pilihan orang tua dan anak
Pilihan belajar adalah pilihan orang tua dan anak
Pilihan mengarahkan dan memberi semangat adalah dikembalikan orangtua dan anak juga.
sebagai orangtua, yang pernah menjadi anak-anak,…. maka sebagai orangtua justru juga dituntut untuk “cerdas” jangan menuntut pula anak-anak untuk cerdas secara berlebihan, hal ini lebih memberatkan anak.
DEPDIKNAS adalah PROVIDER dan kita warga negara adalah USER, kita tidak pernah ditanya seberapa sulit kehidupan kita atau seberapa sulit mendampingi anak pada waktu ini, sudah kita terima saja sembari berdo’a.
Sebagai orangtua kita sebenarnya yang layak menentukan standar anak kita kelak, dan benar bukan UAN (itu hanya formal saja)
Untuk sekolah kejuruan atau lanjutan memang seharusnya menggunakan standar nilai terhadap prestasi kepintaran/ kebisaan (IQ). Tapi untuk sekolah dasar, sebaiknya dikembalikan ke fungsi PENDIDIKAN (sikap, budi pekerti serta nilai-nilai agama dan budaya ) bukan PENGAJARAN (harus pintar dan harus jadi juara). sehingga jika sudah besar nanti tidak “terlalu” ngotot untuk mendapatkan sesuatu yang semestinya bisa dibagi bersama.
Sebetulnya UAN menjadi masalah karena nilainya menjadi penentu kelulusan. seandainya hanya digunakan sebagai standart atau tolok ukur kemajuan/perkembangan dari suatu lembaga kan. seorang guru tentu ingin semua siswanya lulus karena tekanan dari beberapa pihak yang tekait, entahlah, sampai kapan kondisi seperti ini .
dari pengamatan dan pengalaman dari beberapa pendapat, di dunia pendidikan dan dunia nyata.ada benarnya juga di katakan bahwa pendidikan dinegara kita memaksa anak menjadi superman….. menguasai setiap sudut bidang ilmu dengan susah payah..namun pada akhirnya sebagian besar hanya ke sia-sia an belaka.contoh di daerah terpencil dan miskin anak-anak kelas 3 sma jur IPA di paksa belajar materi-materi matematika, fisika, kimia, biologi dll secara rutin padahal berapa persen yang benar-benar bisa di amalkan, berapa persen yang mampu melanjutkan kejenjang kuliah, kenapa tidak diajarkan yang lebih realistis dalam kehidupan.anak-anak diberi pilihan, yang suka olah raga ,yang suka melukis, menari, drama, musik, kaligrafi dll, dalami saja sampai mereka bisa mahir.. atau tergantung daerah, seperti komunitas nelayan, petani, pedagang, penambang, anak-anak diajarkan tentang hal-hal tersebut sehingga bisa di terapkan di rumah juga bisa mengembangkan usaha orang tua. para sarjana pertanian, pertambangan, peternakan dll juga bisa dapet kerjaan.
masalah pendidkan yang seperti ini ….. ternyata juga merupakan masalah di negeri-negeri maju juga. semua pendidikan formal telah menjadi rutinnitas untuk mempelajari yang tidak akan digunakan dalam hidup dan kenyataan. rakyat amerika ….. juga banyak yang protes tentang sistem pendidikan formal mereka. rakyat jepang juga kurang lebih sama…..mengeluh tentang pendidikan mereka. tentu saja urusan yang utama seperti dana APBN untuk pendidikan dsb seharusnya yang menjadi sorotan. karena jika di bandingkan negara maju ini yang paling menonjol .dan paling kelihatan bobroknya sistem pendidikan di Indonesia.
Apapun standarisasi kelulusan bagi siswa yang pasti pendidikan itu penting, walaupun masyarakat kita masih terpaku pada paradigma bahwa sekolah yang tinggi adalah agar bisa memudahkan seorang anak dalam mendapatkan pekerjaan. Sementara di negara2 maju pola pikir mereka adalah bagaimana pendidikan tinggi ini bisa memacu kreatifitas seseorang untuk melakukan riset dan mengembangkan diri pribadi untuk menghasilkan sebuah terobosan/innovasi baru, bukannya modal ijasah untuk mencari kerja dan mengabdi seperti pada masyarakat kita umumnya.
Banyak anak Indonesia gak ngerti mathematika.. Itu kesalahan dan kegagalan para guru mathematika.. Seharusnya mereka jangan bertampang sangar.. Seandainya mereka sabar.. dan ada pendekatan dengan murid pasti mathematika terasa mudah bagi anak-anak.. Mengapa sebagian besar guru mathematika galak ? hanya kumpulan dari pendapat, mungkin punya pendapat tentang pendidikan mari bergabung.